Selasa, 16 Juni 2020

PENDIDIKAN NILAI (MORAL) DI SEKOLAH DASAR, MENGAPA LEBIH DIUTAMAKAN?


Pendidikan Nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat, serta menjadikan bangsa yang tangguh dalam menyongsong Peradaban.
Ini merupakan rumusan mengenai kualitas manusia Indonesia yang harus dikembangkan dalam pengembangan pendidikan karakter. Karakter adalah watak, tabiat, atau juga kepribadian seseorang yang terbentuk dari berbagai kebajikan yang diyakini dan mendasari cara pandang, berpikir, sikap, dan cara bertindak orang tersebut. 

Karakter yang positif perlu terus ditumbuhkan pada peserta didik sebagai benteng bagi generasi muda dari terjangan budaya asing yang semakin menguasai berbagai lini kehidupan saat ini. Sekolah sebagai sebuah tempat menimba ilmu menjadi fasilitas dalam pengembangan pendidikan karakter peserta didiknya. 
Dalam hal ini, karakter adalah nilai-nilai positif yang menjadi suatu kebiasaan sebuah peradaban. penumbuhan nilai-nilai ini bertujuan untuk melestarikan dan mengembangkan budaya positif yang menjadi ciri khas masyarakat atau bangsa tertentu. kemunduran nilai-nilai dan moral suatu masyarakat atau bangsa akan menjadikan hilangnya jati diri, berkurangnya marwah dan hilangnya semangat kebangsaan di dada penerus bangsa. hal ini akan menjadikan bangsa tidak memiliki arah dalam pembangunan fisik maupun mentalnya.
Pendidikan Nilai adalah suatu pendidikan yang mempertimbangkan objek dari sudut moral dan sudut pandang non-moral, meliputi estetika, yakni menilai objek dari sudut pandang keindahan dan selera pribadi, dan etika yaitu menilai benar atau salahnya dalam hubungan antar pribadi. Hal itu mengindikasikan bahwa pendidikan moral sangatlah penting diajarkan kepada peserta didik untuk menanamkan pengetahuan dan menanamkan sikap mengenai apa yang bernilai baik dan buruk dan sangat penting untuk diterapkan dalam pendidikan. 
Keterpurukan suatu bangsa dapat disebabkan oleh rusaknya moral warganya. Fakta menunjukkan bahwa generasi penerus bangsa membutuhkan pembinaan moral terutama dari keluarga dan pihak sekolah dan lingkungan tempatnya bersosial. Nilai-nilai moralitas anak akan tertanam dengan kuat jika pendidikan mengenai moral serta pendidikan yang berkaitan dengan pembentukan karakter dibangun sedini mungkin, terutama di sekolah Dasar, karena di usia ini sangat menentukan anak dalam mengembangkan potensinya. Pendidikan Moral yang akan membentuk pada sikap yang positif sebaiknya digiatkan sejak dini. Penanaman sikap dan moral siswa sejak dini sesuai dengan pandangan Bruner yang menyatakan dalam grafiknya bahwa hal utama yang seharusnya diberikan dalam porsi besar di jenjang Sekolah Dasar adalah sikap (attitude), kemudian keterampilan (skill), dan pengetahuan (knowledge). Pentingnya pemberian pendidikan moral sejak dini diperlukan agar siswa terbiasa dalam melakukan perilaku yang positif, perilaku yang lebih terarah sesuai dengan norma yang berlaku di masyarakat. Pembiasaan ini dapat dilakukan secara bertahap dengan cara mengetahui sesuatu yang baik (knowing the good). Pemberian dan penyampaian materi dengan pemberian teladan maupun contoh akan membuat anak merasakan suatu kebaikan dan menyukai sesuatu yang bernilai baik (feeling the good). Kondisi yang seperti ini akan menjadikan anak terbiasa dan nyaman berada dalam sesuatu yang bersifat kebajikan, karakter yang kemudian timbul adalah rasa suka pada kebaikan, Hal ini akan membentuk suatu kebiasaan untuk selalu berbuat baik (acting the good). Tumbuhnya sikap positif seperti ini akan menjadikan anak terbiasa melakukan sesuatu yang bernilai positif dan memiliki karakter yang kuat (Tim Pembinaan Pendidikan Karakter Provinsi Jambi, 2013)
Pemberian pendidikan moral akan menjadikan siswa terasah secara positif aspek emosinya. Banyak hasil penelitian yang menunjukkan bahwa kecerdasan kognitif saja tidak menjamin seseorang untuk mampu menyelesaikan persoalan yang dihadapinya, terutama persoalan yang akan dihadapinya dalam menempuh kehidupan. Seseorang yang memiliki kecerdasan emosi akan memiliki bekal penting untuk menyongsong masa depan, karena akan mampu menghadapi tantangan-tantangan kehidupan, termasuk tantangan untuk berhasil secara akademis. 
Dalam kurikulum pembelajaran di Indonesia, terdapat mata pelajaran yang identik dengan pendidikan moralitas, yaitu Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) dan Pendidikan Agama. Diharapkan mata pelajaran tersebut mampu menanamkan pendidikan moral anak bangsa. Kenyataan yang ada, Muatan Pembelajaran agama di sekolah dasar masih minim. Hal ini ditambah dengan tenaga pengajar yang lebih berkosentrasi pada aspek kognitif yang terdapat pada pembelajaran agama dan PKn daripada menanamkan aspek pendidikannya. Banyak materi ajar yang mengedepankan aspek kognitif dan belum banyak memberikan muatan penanaman karakter yang diharapkan. Kecenderungann ini muncul dikarenakan materi yang diajarkan mengacu pada kompetensi yang telah ditetapkam kurikulum, yang lebih banyak memuat mengenai pengetahuan. Kalaupun ada materi yang berkaitan dengan penanaman nilai-nilai mulia yang perlu dicontoh, persentasenya hanya sedikit, sehingga penanaman nilai-nilai mulia yang diharapkan tidak berjalan dengan maksimal, hal ini perlu diketahui penyebab-penyebabnya. Karena dampak yang terjadi adalah anak kurang mampu menyerap karakter-karakter positif yang ada dan tidak terjadi perubahan karakter setelah menjalani proses pembelajaran. 
Mengapa Penanaman nilai-nilai karakter diutamakan di Sekolah Dasar? bukan jenjang setelahnya (SMP/SMA)? Sekolah Dasar adalah tempat siswa menempuh pendidikan dalam jangka waktu yang lebih lama (6 tahun) dibanding jenjang sekolah lainnya. Penanaman karakter membutuhkan waktu yang lama dan berkesinambungan, pembiasaan yang dilakukan akan menjadi karakter anak hanya jika dilakukan dan diperhatikan secara terus-menerus. Dalam jangka waktu yang lama, maka anak akan terbiasa berada dalam keadaan/situasi yang menjadikannya memiliki karakter yang positif. Faktor lain adalah sistem pendidikan di Sekolah Dasar yang memiliki porsi sistem among lebih banyak akan sangat mendukung keberhasilan pendidikan karakter anak. Anak akan mengikuti apa yang dilakukan oleh lingkungannya karena kebutuhan di usia anak sekolah dasar adalah meniru sesuatu. Kurangnya bekal karakter yang ditanamkan sejak usia sekolah dasar menyebabkan timbulnya beragam perilaku menyimpang di jenjang selanjutnya. Dekadensi moral yang saat ini semakin berkembang akan semakin tak terkendali. Besarnya pengaruh yang melemahkan nilai-nilai karakter harus diimbangi dengan pemberian pembelajaran yang menitikberatkan pendidikan karakter, menguatkan penanaman karakter terutama pada pelajaran Pendidikan Agama dan Pendidikan Kewarganegaraan.
Pemberian materi pembelajaran yang tidak hanya berbentuk kajian teoritis namun mengupayakan dalam bentuk praktis, memberi perhatian pada kondisi para siswa di sekolah maupun di luar sekolah agar penanaman pendidikan karakter berjalan dengan semestinya dan menghasilkan anak didik sesuai dengan yang diamanatkan tujuan pendidikan nasional, yaknu menciptakan manusia Indonesia seutuhnya yang menyandang nilai-nilai karakter bangsa dalam kehidupannya.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

MENCEGAH DEMAM BERDARAH DENGAN 4M PLUS (Sinopsis pantomim)

Hari ini adalah hari libur, Rasel dan Isye sedang menikmati sarapan dengan lahap. Sedang asyik menikmati hidangan, tiba-tiba Isye mel...